Saat kuliah di UPI ia aktif di HMCH, KABUMI, MAPACH, Paguyuban Mahasiswa Insunmedal Sumedang, Forkoma PMPKN Se-Indonesia dan HMI Korkom IKIP Bandung dan HMI Cabang Bandung. Prayoga mengakui dengan banyak aktif di organisasi maka dirinya memiliki banyak teman, ilmu, dan pengalaman. “Hingga jejaring bisa dimanfaatkan dan dikembangkan sampai sekarang,” ujarnya.
Pengalaman organisasi saat kuliah begitu sangat berpengaruh pada karirnya sekarang. “Pengaruhnya sangat positif, terkait decision making, human relation, eticut, public speeking dan lainnya,” ujar Bendahara Umum AP3KnI ini. Awalnya ia tak ada keinginan atau cita-cita menjadi dosen. Namun, perubahan terjadi setelah atau menjelang akhir kuliah. “Saat itu ada terbersit niat jadi dosen. Karena sering melakukan pekerjaan seperti menulis buku, penelitian, dan lainnya yang bersifat akademik,” kenang dia.
Karya bukunya begitu banyak. Buku PKn SD, Buku PKn SMA, Buku Sosiologi SMA, Buku LKS Sosiologi SMA, Buku kuliah Sistem Pemerintahan Daerah, Buku HAM, Buku Studi Kebikakan Publik, Buku kuliah Ilmu Negara, Buku tentang mahasiswa dalam menghadapi Indonesia Emas 2045, Studi Kebijakan Publik, Manajemen Kinerja Pemerintahan Daerah, merupakan buku-buku karyanya yang beredar di toko buku.
Saat ditanya tentang bagaimana kondisi sekolah di Indonesia saat ini, ia mengemukakan masih terjebak pada kurikulum nasional yang ciri-cirinya antara lain terlalu banyak mata pelajaran, guru banyak dibebani tugas administratif, kurang mengembangkan kreatifitas dan pengembangan potensi siswa secara optimal, tuntutan terhadap kualitas semakin tinggi tetapi dukungan pemerintah dan masyarakat terhadap fasilitasi sarana dan prasarana pendidikan masih rendah, kemampuan ekonomi masyarakat dominan semakin lemah dan berdampak pada lemahnya kemampuan dalam dukungan pendidikan.
Menurutnya harus ada upaya reformasi pendidikan, penyederhanaan dan penyesuaian kurikulum. Selain itu berpandangan perlunya mengembalikan ke konsep link and match yang dilengkapi dengan konsep Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
“Saat ini di Indonesia sudah over (diatas batas maximum negara lain). Di Thailan saja hanya 19 jam pelajaran dalam seminggu, sedangkan di Indonesia 35-40 jam. Ini berlebihan,” ujarnya sembari tersenyum.
Sopyan Maolana Kosasih salah satu teman seangkatan sekaligus menjabat Sekum HMCH memberikan pendapatnya. “Kawan ini dikenal sebagai orang yang punya integritas dan loyalitas tinggi. Baik kepada teman, organisasi, maupun institusi dimana kami menuntut ilmu di Bumi Siliwangi. Ketika prinsip beradu, ia akan kukuh berpegang dan tanpa kompromi. Sehingga ia sangat disegani oleh para striker untuk setiap adu tanding sepakbola. Tetes keringatnya akan mudah sirna ketika dihadapkan pada hidangan nasi liwet komplit featuring jengkol ato pete dan asin japuh. Itulah salah satu pijakan dan obat dikala lelah bermain bola atau menyelenggarakan seminar dan kegiatan kampus lainnya,” ujar guru SMPN 3 Bogor itu.
Menurut Sopyan, karir Prayoga di MAPACH, HMI, dan intra kampus menunjukkan ia sebagai mahasiswa multy talents. Semangat kuliahnya luar biasa, bahkan sekelas pernah jadi korban kemarahan Prof. Azis, karena kecuali dia yang hadir semua bolos setelah lelah LDKM dan latihan persidangan yang legendaris.
“Kini, beliau jadi salah satu kebanggaan angkatan ’93 yang dikenal dengan sebutan PASUKAN TURBO sebuah gelar dari Prof. karim yang menjadi ciri khas keangkeran dan kelihaian angkatan ’93. Vivat HMCH!,” pungkas Sopyan. (Deni Kurniawan As’ari, M.Pd. Sekjen Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UPI periode 1999-2000)
Sumber: http://pkn.ika.upi.edu/